Manusia; Akal dan Hati
Manusia adalah salah satu makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT dengan di hadiahi akal untuk menimbang serta memikirkan keadaan alam di sekitarnya baik yang bersangkutan antara manusia dengan manusia ataupun manusia dengan lingkungan hidupnya yang meliputi tetumbuhan atupun hewan, dalam agama islam akal sangatlah dihormati dan mendudukannya pada tempat yang terhormat, tidak seperti di barat atau lebih tepatnya di sekitaran gereja katolik roma sekitar abad ke-15 muncul seorang ilmuan yang berani menyampaikan gagasan ataupun keluasan akal dalam berfikirnya yaitu Galileo Galilei yang mengakibatkan gereja bereaksi lalu membawa galileo galilei ke roma untuk di lakukan proses Inkuisisi. dalam islam manusia di berikan ruang untuk menggunakan akalnya dalam keseharian dan dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Maka alangkah mulianya manusia-manusia yang senantiasa memergunkan akal yang sehat serta hati yang bersih dalam kehidupan bersosial.
Kata akal sendiri memiliki arti ikatan. Kata ini sangat cocok dengan tempat pengambilan, di ibaratkan seperti tali pengikat unta, sedangkan akal itu mengikat manusia. Sebagimana dalam pepatah melayu di ungkapkan “mengikat binatang dengan tali, mengikat manusia dengan akal”. tali mengikat binatang agar tidak lari atupun lepas, akal mengikat manusia supaya tidak lepas mengikuti hawa nafsu. Sedangkan akal menurut istilah ialah pengetahuan akan perkara yang mesti diketahui. Jalan untuk mengetahui perkara-perkata itu ada dua; pertama dengan panca indra. Kedua berawalan dari dalam diri sendiri. Yang di dapat dengan panca indra ialah seumpama bentuk yang terlihat dengan mata, sehingga dapat ditentukan mana hitam mana putih mana hijau, besar atau kecilnya, ataupun suara yang di dengar oleh telinga sehingga dapat ditentukan mana merdu mana sumbangnya. Sedangkan akal yang bermula dari dalam diri sendiri itu seumpama satu perkara ada atau tidaknya, lebih jelasnya akal adalah kumpulan-kumpulan pendapat dari panca indra kemauan dan pikiran yang perlu di rawat agar tidak keluar jalur ataupun ngelantur dan tetap teguh menjadi manusia yang waras dengan akal yang waras.(Hamka:16)
Menjadi manusia yang waras berarti mempergunakan akal, akal yang merdeka telah mengantarkan umat islam dari kekolotan yang membekukan otak atupun dari kemalasan berfikir. Menjauhi taqlid serta bisa memilih dan memilah paham yang keluar masuk rumah pemikiran manusia itu sendiri. Menurut Mohamad Natsir Akal yang merdeka terbagi kepada 3:
1. Akal yang terpimpin
Akal yang terpimpin adalah akal yang secara terus menerus berpegang kepada Al-Quran dan sunnah nabi serta tidak keluar dari perihal perihal yang menyesatkan, semisal seorang Al-Asyari yang di waktu kecilnya di didik menurut cara-cara ahlisunnah wal jamaah lalu masuk ke Mu’tazilah dan menentang pemikiran pemikiran Mu’tazilah dengan pemikiran Mu’tazilah itu sendiri.
2. Akal yang tersesat
Akal yang tersesat adalah akal yang secara terus menerus berpegang pada keadaaan-keadaan Taqlid meskipun tidak bisa di pungkiri bahwa mereka sudah muak dalam keadaan taqlidnya namun di karnakan mereka terus terusan mengikuti sesuatu tanpa mengetahui sebab itu terjadi atau ada, maka mereka merdeka atas ketaqlidannya serta jelaslah bahwa manusia juga bisa tersesat dikarenakna akalnya.
3. Akal yang Lepas dari Patokan Agama
Bahwa akal bisa saja menjadikan manusia lebih taat atau bisa juga mengakibtkan manusia lebih jauh dari patokan agama dengan menghiraukan batasan-batasan yang telah di tentukan oleh agama.
Tiga perihal ataupun tiga kategori mengenai akal yang merdeka juga telah mengantarkan setiap pemeluknya pada kemerdekaannya masing-masing, si pintar berakal merdeka secara pintarnya sedang si bodoh berakal merdeka dalam kebodohannya.
Pernah seorang rawi berkata bahwa Jibril pernah datang kepada Nabi Adam, lalu di suruhlah memilih tiga perkara, lalu Adam bertanya, Manakah yang tiga perkara itu? Jibril menjawab: Akal, Malu, Agama. Lalu nabi Adam memilih Akal. Maka berkatalah Jibril kepada Malu dan Agama, pulanglah engkau kedunya, karena telah di pilihnya akal, keduanya menjawab, di suruh pulang atu tidak, kalau akal telah dipilihnya, tidaklah dapat kami meninggalkannya, sebab kami berdua adalah pengiring akal, Jelaslah bahwa sannya mau sejauh manapun akal pergi akal akan selalu diringi oleh agama dan perasaan malu sebab terkadang akal pula tidak bisa berdiri sendiri perlu pengiring atas dirinya.(Hamka:41)
Liarnya akal haruslah di batasi sebab kalulah tidak di batasi maka akan terjadi kecelakaan, maka manusiapun diberikan hati oleh Allah sang maha pencipta untuk di gunakannya menimbang perihal-perihal yang baik atau buruk meskipun itu akan sangat cepat di tanggapi oleh akal. Dalam pandangan imam Al-Ghazali, hati merupakan unsur metafisik yang menyerupai jiwa namun bersifat halus, tak berbentuk dan memiliki unsur ketuhanan yang mampu menangkap pengetahuan tentang Allah serta melebihi akal dalam ilmu muamalah. Hati sebagai pucuk atapun salah satu unsur yang harus di libatkan dalam setiap pekerjaan sebab terkadang ada orang yang melakukan pekerjaan namun dalam melakukan pekerjaan tersebut ia tidak hadirkan hati maka bisa jadi pekerjaan itupun akan campur aduk. Dalam sebuah tulisan ataupun dalam sebuah pidato-pidato yang baik ialah Ketika seorang penulis atau orang yang berpidato tersebut memakai hati sebab kalaulah timbul dari hati maka akan sampai pada hati pula kiranya. Namun terkadang dalam kehidupan bermasyarakat sering timbul noda-noda yang kurang baik dalam hati serta bila dibiarkan akan menjadi perihal yang cukup besar, semisal hasad atapun apa saja.
Oleh karenanya hati mestilah selalu dibersihkan jangan sampai sudah kelihatan kotor namun tetap dibiarkan dan yang terjadi adalah kurang baiknya pertemanan ataupun kekeluargaan. Manusia yang diberikan akal pula hati mestilah menggunakan kedua alat tersebut agar tertatanya kehidupan yang harmonis, Ketika terjadi sebuah hal yang kurang enak di hati namun ketika di pikirkan itu biasa saja tidak terlalu besar serta agak baiknya segera di luruskan hati tersebut. Memang terkadang untuk menstabilkan keadaan hati itu akan tarasa sulit dan memang sulit namun seiring iktiar yang terus di jalankan lalu di barengi dengan kewarasan akal maka semuanya akan baiklah pula.
Menjadi manusia yang waras adalah menjadi manusia yang bisa menstabilkan hatinya serta membimbing akalnya agar tetap berada pada jalan yang lurus. Dalam Bahasa sunda terdapat ungkapan ”tong goreng hate” yang berarti jangan kotor hati.
Wallahua’alam…
Komentar
Posting Komentar